Spion
Halaman 1 dari 1 • Share •
Spion
(M+)
Memilih spion variasi jangan asal dan salah kaprah. Karena kaca intip ini bukan sekadar variasi pelengkap. Melainkan perangkat safety yang berguna memperkecil wilayah blankspot. Makanya, musti ada patokan. Paling tidak, mendekati desain pabrikan.
Contoh Kanzen yang ambil patokan standar JIS (Japan Industrial Standar). “Kalau tidak salah JIS D 5705:1993, dan telah diadopsi menjadi SII,” jelas Taufik Hidayat, direktur desain dan pengembangan produk PT Kanzen Motor Indonesia (KMI).
Patokan itu juga menyangkut soal kaca. Spesifikasi teknis yang dipakai antara lain reflection rate 80%, distorsion rate maksimal 7% serta sisi kiri dan kanan harus simetris. “Pada produk kita, reflektor permukaan gelas dilapis aluminium film dengan proses evaporasi. Juga diproteksi lapisan cat dengan kurva R-1200,” tambahnya.
Intinya, bentuk kaca diupayakan memudahkan pengendara melihat jelas bagian belakang motor (gbr. 1). “Soal ukuran tinggi dan besar ukuran spion, yang penting, tidak terganggu bahu dan mudah bagi mata melihatnya,” Tambah Nono Sumarno, alias Mang No, bagian Reseach and Development, PT KMI.
Dalam pandangan desain produk, posisi ideal mengikuti kemampuan umum manusia. Dapat melihat normal tegak lurus ke arah depan sekitar 10o ke arah atas dan bawah, serta 15o ke arah kiri-kanan. Ini disebut garis pengelihatan normal (normal sight line).
Di luar fungsi yang berkait dengan pengelihatan, desain safetyjuga perlu dipertimbangkan. Misal antisipasi gangguan handling saat kena benturan. Bisa pilih desain sambungan fleksibel (gbr. 2).
Yamaha boleh unggul soal desain safetyterhadap benturan. Soalnya, mereka punya arah putar ulir baut khas yang sudah dipatenkan. Sehingga spion kanan-kiri tidak takut mengganggu handling. “Arah putar membuat spion akan mengikuti arah benturan dari depan. Sehingga, bukan setang yang terganggu, tapi spion otomatis ngendorin,” jelas M. Abidin, Manager Technical Department, PT Yamaha Kencana Motor Indonesia (YMKI).
Memilih spion variasi jangan asal dan salah kaprah. Karena kaca intip ini bukan sekadar variasi pelengkap. Melainkan perangkat safety yang berguna memperkecil wilayah blankspot. Makanya, musti ada patokan. Paling tidak, mendekati desain pabrikan.
Contoh Kanzen yang ambil patokan standar JIS (Japan Industrial Standar). “Kalau tidak salah JIS D 5705:1993, dan telah diadopsi menjadi SII,” jelas Taufik Hidayat, direktur desain dan pengembangan produk PT Kanzen Motor Indonesia (KMI).
Patokan itu juga menyangkut soal kaca. Spesifikasi teknis yang dipakai antara lain reflection rate 80%, distorsion rate maksimal 7% serta sisi kiri dan kanan harus simetris. “Pada produk kita, reflektor permukaan gelas dilapis aluminium film dengan proses evaporasi. Juga diproteksi lapisan cat dengan kurva R-1200,” tambahnya.
Intinya, bentuk kaca diupayakan memudahkan pengendara melihat jelas bagian belakang motor (gbr. 1). “Soal ukuran tinggi dan besar ukuran spion, yang penting, tidak terganggu bahu dan mudah bagi mata melihatnya,” Tambah Nono Sumarno, alias Mang No, bagian Reseach and Development, PT KMI.
Dalam pandangan desain produk, posisi ideal mengikuti kemampuan umum manusia. Dapat melihat normal tegak lurus ke arah depan sekitar 10o ke arah atas dan bawah, serta 15o ke arah kiri-kanan. Ini disebut garis pengelihatan normal (normal sight line).
Di luar fungsi yang berkait dengan pengelihatan, desain safetyjuga perlu dipertimbangkan. Misal antisipasi gangguan handling saat kena benturan. Bisa pilih desain sambungan fleksibel (gbr. 2).
Yamaha boleh unggul soal desain safetyterhadap benturan. Soalnya, mereka punya arah putar ulir baut khas yang sudah dipatenkan. Sehingga spion kanan-kiri tidak takut mengganggu handling. “Arah putar membuat spion akan mengikuti arah benturan dari depan. Sehingga, bukan setang yang terganggu, tapi spion otomatis ngendorin,” jelas M. Abidin, Manager Technical Department, PT Yamaha Kencana Motor Indonesia (YMKI).
Admin- Admin
- Jumlah posting: 23
Registration date: 10.10.07

Permissions of this forum:
Anda dapat menjawab topik





