Kesadaran Berbagi Ruang di Jalan Raya

Kirim topik baru   Kirim balasan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Kesadaran Berbagi Ruang di Jalan Raya

Post by Admin on Thu Oct 11, 2007 8:37 am

Kesadaran Berbagi Ruang di Jalan Raya

Ditulis oleh faiq di/pada Juni 3rd, 2007

Topik utama yang saya angkat dalam postingan kali ini adalah melihat
bagaimana fenomena sosial yang berlaku di jalan raya. Meskipun tulisan
ini lebih banyak unsur subyektifnya (karena dipaparkan hanya berdasar
pengalaman), namun saya yakin para pengguna jalan yang lain juga punya
pengalaman yang sebagian besar sama dengan yang dialami penulis.

Tak ada maksud untuk membanding-bandingkan, namun lebih kepada ajakan
untuk bersama-sama merenungkan sejauh manakah kondisi sosial yang ada
di sekitar kawasan jalan raya. Syukur-syukur bila para pembaca tulisan
ini akhirnya bersedia merubah perilaku negatifnya menjadi lebih santun
di jalan raya. Semua demi kenyamanan dan keamanan kita bersama.

Tulisan ini direncanakan akan dibagi dalam beberapa sub judul (dalam 2
atau 3 postingan). Untuk yang pertama ini, secara umum saya tuliskan
kondisi sosial jalan raya di negara kita tercinta, Indonesia.

***

Gambaran jalanan kita

Berbagi ruang dan saling hormat menghormati antar pemakai jalan adalah
salah satu faktor utama untuk merasakan ada tidaknya kenyamanan dan
keamanan berkendara dan berjalan di jalan raya. Fenomena sosial di
jalan raya merupakan gambaran bagaimana kehidupan kemasyarakatan para
penggunanya. Gambaran fenomena tersebut biasanya berupa interaksi yang
terjadi antara satu pengguna jasa lalu lintas dengan pengguna lainnya.

Apa yang anda rasakan dan anda temui bila berada di jalan raya di
tanah air kita? Perasaan nyaman dan aman ataukah sebaliknya?
Mungkinkah jawaban anda, seperti yang saya fikirkan? Bahwa kenyamanan
kita "terrampas"? Terrampas karena setiap hari kita akan bertemu
dengan tindakan perampasan pengambilan hak dengan seenaknya dan tanpa
rasa bersalah antara satu dengan yang lain. Atau, mungkinkah justru
kita yang berlakon sebagai perampas hak orang lain?

Intermezzo, saya teringat akan cerita seorang kawan ketika mendampingi
tamu (dosen senior) dari negeri jiran, di Semarang. Ketika berada di
dalam kendaraan, sang tamu khawatir dan terkejut-kejut bila
menyaksikan tertib lalu lintas di negara kita. "Macam mana boleh
berlaku seperti ini?" tanya dia. "Tenang Prof, driver kami sudah
terbiasa dengan peraturan lalu lintas di sini. Insya Allah selamat
sampai tujuan", jawab kawan saya menenangkan sang tamu. Budaya "rimba"
lebih dominan berlaku di jalanan negara kita. Siapa yang berhasil
nyelonong duluan masuk ke alur jalan lain, itulah yang menang. Sang
tamupun terkejut-kejut menyaksikan realitas itu.

Contoh "ringan" lainnya, lihatlah kejadian sehari-hari di sekitar
traffic light. Betapapun di persimpangan jalan itu telah menyala lampu
merah, selalu saja ada kendaraan yang seenaknya nyelonong menerobos
lampu merah tanpa memperhatikan kendaraan yang datang dari arah lain.
Perampas hak tersebut tak bersedia memberi prioritas pada kendaraan
lain yang lebih berhak memanfaatkan laluan. Apalagi terhadap hak para
pejalan kaki yang sedang menyeberang jalan di persimpangan tersebut.

Kejadian lebih parah lagi terjadi bila persimpangan tersebut hanya
terdapat rambu lalulintas berupa garis marka. Lagi pula, seingat saya
(semoga ingatan saya salah, red) persimpangan jalan di tanah air kita
(terutama yang bukan jalan utama atau yang berada di pinggir kota)
hampir semuanya tak berrambu. Baik yang berupa lampu lalu lintas
ataupun rambu marka.

Fenomena sosial lainnya adalah budaya antri dan bersedia tetap berada
pada lajur/alur jalan masing-masing ketika terjadi kemacetan di jalan
raya, tak tampak sama sekali. Gambaran saling berebut dan berusaha
saling mendahului meskipun berada di kemacetan lalu lintas, sudah
menjadi suguhan sehari-hari. Pengendara-pengendara agresif (ada yang
menyebut demikian) seperti ini, banyak dilakonkan oleh para pengendara
sepeda motor dan pengemudi angkot. Padahal dengan kejadian seperti
ini, kelancaran, kenyamanan dan keamanan berlalulintaspun pasti
terganggu.

Apakah di negara kita telah terjadi degradasi kesopanan berlalu
lintas, jawabannya mungkin "ya" mungkin juga "tidak". Kenapa? Jawaban
"ya" berlaku bagi para pengguna jalan yang semula mau berlaku sopan,
tetapi bila dihadapkan pada kenyataan di jalanan maka perilaku
positifnya berubah menjadi negatif. Sebaliknya jawaban "tidak" dapat
dikenakan pada pengguna jalan yang memang sudah terbiasa tidak
berbudaya santun dari awalnya. Padahal bila para pengguna jalan
tersebut "migrasi" ke negara lain yang lebih maju, attitude merekapun
dengan sekonyong-konyong berubah menjadi positif, tanpa syarat.
Merekapun bisa berlaku sopan bila berlalu lintas di negara lain dan
bersedia berantri bila terjebak kemacetan.

***

Itulah sekelumit ilustrasi yang saya kemukakan berkaitan dengan rasa
nyaman berada di jalan raya. Budaya berlalu lintas yang sopan (secara
umum) sudah lama tak tampak dalam lingkungan jalan raya kita. Gambaran
lain terrampasnya rasa nyaman dan aman di jalan raya Indonesia dapat
pula anda baca di sini, disini, dan juga di sini. Begitulah
realitasnya, bahwa pada kenyataannya memang kenyamanan, keamanan dan
kesopanan berlalu lintas di tanah air tercinta sudah terkikis habis,
tak bersisa.

Admin
Admin

Jumlah posting: 23
Registration date: 10.10.07

Lihat profil user http://lampuhijau.forumotion.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


Kirim topik baru   Kirim balasan
Permissions of this forum:
Anda dapat menjawab topik