Hilangnya Kewaspadaan di Jalan
Halaman 1 dari 1 • Share •
Hilangnya Kewaspadaan di Jalan
PERILAKU pengendara motor yang seenaknya sendiri di jalan raya dapat
menyebabkan stres dan berujung pada perilaku agresif yang berakibat
pada kecelakaan.
Pada dua tahun terakhir kecelakaan yang dialami para pengendara motor
sangat tinggi. Pada tahun 2006 misalnya, dari 221 kecelakaan di Kota
Bandung, sebanyak 70% kasus terjadi pada pengendara sepeda motor.
Pengamat psikologi sosiologi yang juga merupakan Dekan Fakultas
Psikologi Unisba, Dr. Umar Yusuf, M.Si., menuturkan, kepadatan lalu
lintas dapat menyebabkan pengemudi mengalami stress out. Mengapa
stress out? Karena sesungguhnya setiap orang itu memiliki target.
Dalam kasus ini, setiap orang pasti dikejar waktu, terlambatnya atau
padatnya lalu lintas membuat orang tidak bisa dengan leluasa memenuhi
target waktunya.
Akibat tidak bisa memenuhi target tersebut dapat menimbulkan suatu
situasi kekecewaan. Yang dalam usahanya memenuhi target terganjal
suatu halangan. Halangan ini yang menjadi pemicu stres nantinya kalau
tidak bisa diselesaikan sehingga dapat timbul sesuatu yang dinamakan
frustrasi.
Frustrasi ini sangat besar kaitannya dengan emosi seseorang sehingga
dapat menimbulkan kemarahan. "Kalau kita lihat di jalanan karena tidak
sabar jadi maki-maki. Terus datang lagi motor lain menyerobot, tidak
suka, pukul, berantem," ungkap Umar.
Indikasi-indikasi tersebut di atas yang bisa menumbuhkan gejala
kekecewaan sehingga timbul tekanan dan perilaku agresif, kemudian
dapat memungkinkan adanya kelengahan. "Karena emosi, berantem. Selesai
berantem, kita masih di bawah tekanan lain, yaitu diburu waktu. Karena
buru-buru memenuhi target waktu itu, makanya seringkali pengendara
motor itu tidak waspada dan hilang konsentrasi. Akibatnya?
Kecelakaan," tuturnya.
Sebenarnya, menurut Umar, hal-hal tersebut dapat direduksi. Akan
tetapi, bergantung kepada individu masing-masing. Sejauh mana si
pengendara motor mau mereduksinya.
"Misalnya dengan mereduksi waktu, dengan persiapan-persiapan. Ini
terbukti mampu menurunkan kadar stres saat berkendara. Sebelum
berangkat, kita bisa mengantisipasi waktu dan kondisi kendaraan,"
ungkapnya.
Sebenarnya, menurut dia, perilaku seseorang pada saat berkendara ini
sangat erat kaitannya dengan mentalitas seseorang. Mentalitas ini
terbangun karena budaya di sekelilingnya. "Kalau budaya di
sekelilingnya tidak disiplin, itu akan berpengaruh kepada perilaku
seseorang," katanya.
Untuk itu, diperlukan suatu informasi yang jelas dan mudah dimengerti
oleh masyarakat. Sementara itu, pembentukan informasi yang mudah
dimengerti oleh masyarakat di Kota Bandung sama sekali belum ada.
Buktinya, dengan begitu banyak rambu-rambu dan peraturan tertulis
ternyata belum timbul kesadaran dari masyarakat khususnya para
pengendara motor tersebut.
Ternyata, ditambahkan Umar, perilaku seseorang juga dipengaruhi oleh
keteladanan. Karena keteladanan ini yang nantinya dapat membentuk
frame of reference yang memandu perilaku seseorang karena terbentuknya
dari pengalaman.
Jika kedua hal tersebut di atas belum dibenahi, akan semakin memenuhi
ketidakpastian sehingga semakin besar pula kekecewaan yang akan
timbul. "Karena masalah perilaku berkendara ini sangat kompleks, maka
solusinya perlu penegakan hukum yang sesuai, perlu ada sistem
punishment, dan reward," tuturnya. (Wina/"PR")***
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/062007/11/selisik/utama02.htm
menyebabkan stres dan berujung pada perilaku agresif yang berakibat
pada kecelakaan.
Pada dua tahun terakhir kecelakaan yang dialami para pengendara motor
sangat tinggi. Pada tahun 2006 misalnya, dari 221 kecelakaan di Kota
Bandung, sebanyak 70% kasus terjadi pada pengendara sepeda motor.
Pengamat psikologi sosiologi yang juga merupakan Dekan Fakultas
Psikologi Unisba, Dr. Umar Yusuf, M.Si., menuturkan, kepadatan lalu
lintas dapat menyebabkan pengemudi mengalami stress out. Mengapa
stress out? Karena sesungguhnya setiap orang itu memiliki target.
Dalam kasus ini, setiap orang pasti dikejar waktu, terlambatnya atau
padatnya lalu lintas membuat orang tidak bisa dengan leluasa memenuhi
target waktunya.
Akibat tidak bisa memenuhi target tersebut dapat menimbulkan suatu
situasi kekecewaan. Yang dalam usahanya memenuhi target terganjal
suatu halangan. Halangan ini yang menjadi pemicu stres nantinya kalau
tidak bisa diselesaikan sehingga dapat timbul sesuatu yang dinamakan
frustrasi.
Frustrasi ini sangat besar kaitannya dengan emosi seseorang sehingga
dapat menimbulkan kemarahan. "Kalau kita lihat di jalanan karena tidak
sabar jadi maki-maki. Terus datang lagi motor lain menyerobot, tidak
suka, pukul, berantem," ungkap Umar.
Indikasi-indikasi tersebut di atas yang bisa menumbuhkan gejala
kekecewaan sehingga timbul tekanan dan perilaku agresif, kemudian
dapat memungkinkan adanya kelengahan. "Karena emosi, berantem. Selesai
berantem, kita masih di bawah tekanan lain, yaitu diburu waktu. Karena
buru-buru memenuhi target waktu itu, makanya seringkali pengendara
motor itu tidak waspada dan hilang konsentrasi. Akibatnya?
Kecelakaan," tuturnya.
Sebenarnya, menurut Umar, hal-hal tersebut dapat direduksi. Akan
tetapi, bergantung kepada individu masing-masing. Sejauh mana si
pengendara motor mau mereduksinya.
"Misalnya dengan mereduksi waktu, dengan persiapan-persiapan. Ini
terbukti mampu menurunkan kadar stres saat berkendara. Sebelum
berangkat, kita bisa mengantisipasi waktu dan kondisi kendaraan,"
ungkapnya.
Sebenarnya, menurut dia, perilaku seseorang pada saat berkendara ini
sangat erat kaitannya dengan mentalitas seseorang. Mentalitas ini
terbangun karena budaya di sekelilingnya. "Kalau budaya di
sekelilingnya tidak disiplin, itu akan berpengaruh kepada perilaku
seseorang," katanya.
Untuk itu, diperlukan suatu informasi yang jelas dan mudah dimengerti
oleh masyarakat. Sementara itu, pembentukan informasi yang mudah
dimengerti oleh masyarakat di Kota Bandung sama sekali belum ada.
Buktinya, dengan begitu banyak rambu-rambu dan peraturan tertulis
ternyata belum timbul kesadaran dari masyarakat khususnya para
pengendara motor tersebut.
Ternyata, ditambahkan Umar, perilaku seseorang juga dipengaruhi oleh
keteladanan. Karena keteladanan ini yang nantinya dapat membentuk
frame of reference yang memandu perilaku seseorang karena terbentuknya
dari pengalaman.
Jika kedua hal tersebut di atas belum dibenahi, akan semakin memenuhi
ketidakpastian sehingga semakin besar pula kekecewaan yang akan
timbul. "Karena masalah perilaku berkendara ini sangat kompleks, maka
solusinya perlu penegakan hukum yang sesuai, perlu ada sistem
punishment, dan reward," tuturnya. (Wina/"PR")***
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/062007/11/selisik/utama02.htm
Admin- Admin
- Jumlah posting: 23
Registration date: 10.10.07

Permissions of this forum:
Anda dapat menjawab topik





